Saturday, September 24, 2016

Yang Kyoungjong, Pemuda Korea Yang Membela 3 Negara Pada Perang Dunia Kedua

Yang Kyoungjong, saat ditangkap dan di data oleh 
pasukan Amerika Serikat di Normandia, Juni 1944.

Yang Kyoungjong, adalah orang Korea yang pernah bertempur untuk 3 negara, yaitu Jepang, Jerman dan Soviet pada Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1938, Yang Kyoungjong yang pada saat itu masih berusia 18 tahun, diangkut oleh tentara Jepang ke Manchuria untuk direkrut menjadi tentara Kwantung, kemudian nantinya dia akan dikirim ke Pertempuran Khalkhin Gol. Selama pertempuran khalkhin gol, ia ditangkap oleh tentara Uni Soviet dan kemudian dikirim ke penjara Gulag. Sampai pada tahun 1942, karena kurangnya SDM, ia bersama ribuan tahanan lainnya kemudian di paksa bergabung dengan tentara Soviet untuk melawan Nazi Jerman di Front Timur.

Pada tahun 1943, lagi-lagi ia ditangkap oleh tentara Jerman di Ukraina selama Pertempuran Kharkov Ketiga, dan kemudian menjadi relawan untuk tentara Jerman dan ditempatkan di unit khusus relawan Ost-Battalionen. Disini, Yang dikirim untuk melawan partisan di daerah Perancis dan berbagai pertempuran besar lainya, terutama pada Invasi Normandia 1944. 

Pada Invasi Normandia 1944, Yang ditugaskan di basis pertahanan pantai Utah, Yang ditangkap oleh pasukan terjun payung Amerika pada bulan Juni 1944. Pasukan Amerika awalnya mengira dia adalah relawan dari Jepang. Beberapa hari kemudian, Letnan Robert Brewer dari 101st Airborne Division, melaporkan bahwa anak buahnya telah menangkap 4 orang Asia lainnya yang mengenakan seragam Jerman di sekitar pantai Utah. 


4 orang Korea lainnya yang ditangkap di sektor pantai Utah, Normandia.

Karena tidak ada yang bisa berkomunikasi pada mereka, 5 orang ini pada akhirnya dikirim ke penjara di Inggris dan kemudian dipindahkan ke sebuah kamp di Amerika Serikat sampai perang berakhir. Setelah Yang dibebaskan, ia menetap di Illinois, Amerika Serikat. Di mana dia menikah dan mempunyai 2 orang anak, sampai kematiannya pada 7 April 1992. Sementara nasib 4 orang Korea lainnya tidak diketahui. Kisah Yang Kyoungjong kemudian diangkat dalam film berjudul "My Way", dirilis pada tahun 2011.

Nama : Yang Kyoungjong (양경종)
Lahir : 3 Maret 1920, di Shin Euijoo, daerah Barat Laut Korea
Meninggal : 7 April 1992, di Illinois, Amerika Serikat (umur 72 tahun)
Pengabdian :  Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1938-1939), Red Army (1942-1943), Wehrmacht (1943-1944).
Perang : Perang Dunia Kedua, Pertempuran Khalkhin Gol, Pertempuran Kharkov Ketiga, Invasi Normandia 1944.




Tuesday, September 6, 2016

Sejarah Dibalik Jerigen

Jerigen, adalah sebuah wadah dari bahan plastik atau Alumunium yang biasanya diunakan untuk menyimpan cairan seperti air atau minyak gas. Siapa yang menyangka, Jerigen adalah satu dari kesekian banyaknya penemuan Nazi Jerman yang saat ini dimanfaatkan oleh banyak orang didunia.


"Jerry Can" dari jaman Perang Dunia Kedua.
Ada marking SS-nya... (._.)

Pada awal 1935-an, militer Nazi Jerman meminta departemen Persenjataan Wehrmacht untuk membuat wadah bahan bakar yang bersifat portable atau mudah untuk dibawa-bawa, hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi susahnya pengiriman pasokan bahan bakar atau air saat berada dimedan pertempuran. 

Pada 1938, perusahaan Muller Egineering memberikan desain wadah air portable-nya pada departemen Persenjataan Wehrmacht. Kemudian pada awal 1939, Jerigen pun mulai diproduksi.

Jerigen mempunyai nama asli Wehrmacht-Einheitkanisster dan hanya diproduksi untuk kepentingan militer saja. Sementara, pihak Sekutu menyebutnya "Jerry Can", yang mana kata "Jerry" ini adalah kata slang yang berarti "Orang Jerman", dan "Can" dalam bahasa Inggris berarti "Kaleng" atau wadah yang terbuat dari besi. Dan kemudian oleh orang Indonesia, kata "Jerrycan" diplesetkan lagi menjadi "Jerigen".

Sunday, September 4, 2016

Foxhole

Foxhole, adalah sebuah lubang perlindungan seperti sumur yang berukuran relatif kecil, Foxhole biasanya hanya berukuran beberapa meter dan hanya muat digunakan oleh 2-3 orang saja pada setiap lubangnya. Foxhole mempunyai banyak julukan ditiap-tiap pihak. Oleh pasukan US, Foxhole dijuluki sebagai "Ranger Grave". Sedangkan oleh pasukan Kanada dan Inggris disebut "Slit Trench".

Seorang tentara SS berlindung didalam Foxhole. Btw,
dilihat dari tatapan anehnya orang ini kemungkinan 
sedang terkena PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), salah-satu 
gangguan kejiwaan yang kerap di idap oleh para tentara saat berperang.

Seorang tentara Amerika didalam Foxhole-nya. 
Normandia, 1944.

2 orang tentara Amerika berbagi tempat tidur dengan 
seorang anak Jepang di Okinawa.

Ya, keliatannya tentara ini juga terkena PTSD.
Atau emang kesel karena lubangnya kekecilan ? (.__.)

2 orang tentara Soviet yang mati kedinginan di lubang Foxhole mereka.
Finlandia, 1940.

Foxhole mulai digunakan pertama kali dimedan Afrika, dimana para pasukan Amerika mencoba membuat pertahanan untuk melindungi diri mereka sendiri dari ancaman bomber Nazi Jerman. Awalnya Foxhole hanya berbentuk lubang horizontal pasif yang ukurannya disesuaikan dari tinggi dan besar badan pengguna. Hal ini sangatlah berguna dan efektif, mengigat lubang-lubang Foxhole tersebut susah dibom menggunakan pesawat karena terlalu kecil jika dilihat dari ketinggian. Lucunya, banyak kasus para prajurit tersebut terkubur hidup-hidup karena lubangnya terlindas oleh tank musuh ataupun tank-tank milik mereka sendiri.

Dengan seiring berjalannya perang, teknologi Foxhole pun mengalami pengembangan. Salah-satu pengembangannya adalah Foxhole dengan lubang Vertikal yang memungkinkan seorang pajurit berdiri untuk menembak dan berbaring untuk melindungi diri dari tembakan. Ada juga model lain yang berbentuk lubang besar seperti kawah dengan gundukan tanah yang lebih tinggi disekelilingnya, model Foxhole seperti ini biasanya digunakan untuk pasukan-pasukan pembawa senapan mesin atau mortar.

Model seperti ini memungkinkan prajurit untuk menembak sambil 
meng-cover tubuhnya dari serangan senapan mesin atau artileri. 
Tetapi sangat rentan terlindas kendaraan-kendaraan tempur.


Model Foxhole ini memungkinkan untuk melindungi prajurit dari 
serangan udara dan sangat efektif melindungi diri dari lindasan 
kendaraan-kendaraan tempur. Tetapi sangat rentan jika tubuh prajurit 
terlihat dipermukaan, terutama dari ancaman para Sniper musuh. 





Saturday, September 3, 2016

Hinomaru Yosegaki, "Jimat" Tentara Jepang

Hinomaru Yosegaki, adalah hadiah berupa bendera yang biasa diberikan oleh sanak saudara ketika seseorang akan berangkat menuju peperangan. Bendera tersebut adalah bendera nasional Jepang (Hinomaru) yang sudah ditulisi doa-doa, ataupun tanda tangan para kerabat untuk mengingatkan sang prajurit akan kampung halamannya. Budaya ini sudah ada sejak tahun 1800-an, tentara Jepang percaya jika mereka menyimpan bendera tersebut, Dewa akan selalu melindungi mereka.


Hinomaru Yosegaki milik seorang pelaut IJN.

Hinomaru Yosegaki rampasan milik tentara Soviet pada 
pertempuran Khalkhin Gol, 1939.

Bendera Hinomaru Yosegaki hasil rampasan 
seorang tentara USMC. Yang pada 2015 lalu, 
bendera tersebut sudah dikembalikan ke Jepang.

Biasanya, beberapa jenis doa seperti "Buun Chou Kyu" ditulis dengan ukuran besar di bagian atas bendera. Normalnya, doa-doa dan tanda-tangan tersebut hanya ditulis pada bagian bendera yang berwarna putih. Orang Jepang percaya bahwa lingkaran merah pada bendera Hinomaru mewakili Dewa mereka, sehingga tidak boleh dikotori.

Btw, bendera Hinomaru Yosegaki ini adalah "souvenir" yang paling disukai oleh para tentara Amerika yang bertugas di Pasifik. Sayangnya, pada tahun 2015 lalu, pemerintah Amerika meminta para veteran perang Amerika dengan ikhlas mengembalikan bendera-bendera tersebut kepada pihak Jepang, demi mempererat hubungan antara kedua negara. Yang pada akhirnya, sekitar 190 bendera Hinomaru Yosegaki berhasil dikembalikan.

Souvenir dari Iwo Jima. 

Ini juga di Iwo Jima.






Thursday, September 1, 2016

Banzai Charge

Banzai Charge, atau Serangan Banzai, adalah istilah yang diciptakan oleh kalangan pasukan Sekutu untuk menyebut taktik serangan Human Wave Attack yang dilakukan oleh pasukan Jepang. Istilah ini berasal dari salah-satu kata seruan perang yaitu "Tenno Heikka, Banzai" yang mempunyai arti "Panjang Umurlah Sang Kaisar". Yang biasanya kata itu diteriakkan oleh para pasukan Jepang saat melakukan serangan tersebut.


Beberapa pasukan Jepang melakukan Banzai Charge 
pada pertempuran Luzon,1945.

Puluhan pasukan Jepang di Singapura diarahkan oleh perwira 
mereka untuk bersiap melakukan Banzai Charge.

Orang-orang Jepang meyakini taktik serangan ini adalah salah-satu metode untuk melakukan Gyokusai (Mati dengan terhormat). Taktik serangan bunuh diri seperti ini sudah dilakukan sejak zaman priode Sengoku, yang mana para Samurai Jepang mengikuti kode etik yang disebut Bushido. Bushido mengajarkan untuk hidup dalam perilaku disiplin dan terhormat. 

Kebanyakan orang berpendapat bahwa taktik Serangan Banzai adalah hal yang bodoh dan tidak rasional. Tetapi pada dasarnya ada 2 alasan yang membuat pasukan Jepang sering menggunakan taktik ini. Yang pertama, tentara Jepang lebih memilih bunuh diri daripada tertangkap oleh musuh. Pemikiran seperti ini sudah mendarah-daging bagi orang-orang Jepang.

Yang kedua, pengalaman sebelum Perang Dunia Kedua telah menunjukkan bahwa taktik seperti ini juga bisa menjadi sangat efektif. Contohnya pada Perang Dunia Pertama, taktik Human Wave Attack adalah kunci utama untuk merebut parit-parit musuh.


Pasukan Perancis yang melakukan serangan 
Human Wave Attack pada Pertempuran Gallipoli, 1915. 


Pasukan Jerman pada Perang Dunia Pertama yang bersiap 
melakukan serangan Human wave Attack pada parit musuh.
Yang mana biasanya, mereka akan melemparkan granat terlebih 
dahulu untuk memberi sedikit "tekanan" pada musuh.

Taktik Serangan Banzai ini hampir selalu dilakukan oleh para pasukan Jepang saat mereka sudah terdesak atau kehabisan amunisi. Serangan Banzai relatif gagal, karena pertahanan Sekutu di Pasifik lumayan kuat. Kunci kesuksean taktik serangan ini adalah jika musuh mempunyai pertahanan yang lemah, dan dipersenjatai oleh senapan-senapan dengan Fire Rate rendah, seperti Bolt-Action Rifle. Ketika Sekutu menginvasi wilayah-wilayah jajahan Jepang, mereka sudah dipersenjatai dengan senapan-senapan mesin yang cukup memadai, sehingga bisa dengan mudah menebas habis pasukan-pasukan Jepang dari jarak jauh. 

Salah satu serangan Banzai yang sukses adalah yang dilakukan di pulau Attu selama Kampanye Kepulauan Aleut pada tahun 1943. Yang mana serangan itu menembus sangat jauh ke dalam garis pertahanan Amerika. Ini adalah salah-satu Serangan Banzai yang terbesar yang pernah dilakukan oleh Jepang.


Puluhan mayat tentara Jepang yang bergelimpangan 
setelah melakukan Banzai Charge, Sungai Matanikau, 1942.

Tentara Amerika berusaha menangkis 
serangan Banzai di Guam, 1944.

Pasukan Amerika dengan senapan M1-nya yang seorang diri menembaki puluhan 
pasukan Jepang yang melancarkan Serangan Banzai 
demi mempertahankan posisinya. Saipan, 1944.

Serangan Banzai yang terbesar lainnya dilakukan pada saat-saat akhir Pertempuran Saipan pada 1944, sekitar 2 Batalion Infanteri Amerika hancur dalam satu kali serangan. Sementara lebih dari 4.000 tentara Jepang tewas. Peristiwa ini diadopsi kedalam film "Oba : The Last Samurai" yang dirilis pada 11 Februari 2011.









Wednesday, August 31, 2016

M30 Luftwaffe Drilling

M30 Luftwaffe Drilling, adalah senjata darurat yang dikeluarkan untuk pilot-pilot Luftwaffe (Angkatan Udara Nazi Jerman) selama Perang Dunia Kedua. Senjata ini dimaksudkan untuk pertahanan diri dan berburu jika ada saatnya pesawat mereka tertembak jatuh, selagi menungu tim penyelamat datang.

Jejeran senapan M30 Luftwaffe Drilling yang sudah dibersihkan 
dan siap untuk dipakai latihan.

Seorang perwira Luftwaffe memberi pengarahan pada anak buahnya.

Senapan ini mulai dikenalkan pada tahun 1930 oleh perusahaan senjata api ternama, J.P Sauer & Sohn. Sebelum perang, senapan ini dijual secara komersial, M30 ini biasanya digunakan untuk kegiatan olahraga berburu dan kompetisi menembak. M30 mempunyai 3 lubang barrel, 2 barrel besar berisi 2 butir peluru 12-Gauge, dan barrel yang kecil berisi 1 butir peluru senapan 9.3x74mmR.

Saat Adolf Hitler memulai operasi militer di Afrika Utara pada tahun 1941, M30 mulai diadopsi untuk digunakan menjadi persenjataan militer. Karena biaya produksinya yang sangat-sangat mahal sekali, senapan M30 hanya diperuntukan untuk para pilot Luftwaffe dan jumlahnya sangat terbatas. Lagipula, senapan berjenis Shot-Gun seperti ini tidak efektif untuk senjata militer, karena Fire Rate-nya yang terlalu rendah.


Senapan M30 Luftwaffe Drilling.



Lubang Barrel senapan M30 Luftwaffe Drilling.

Biasanya senapan ini disimpan dalam box alumunium, bersama dengan paket amunisi yang mana berisi 20 butir 9.3x74mmR, 45 butir peluru 12-Gauge, 20 butir peluru hampa dan beberapa butir peluru yang khusus untuk menembak burung. Tak lupa juga 1 box perangkat perawatan senapan. Total berat paket ini sekitar 15 Kg.



Box alumunium dan paket didalamnya.


Spesifikasi

Type : Kombinasi Shot-Gun dan Rifle
Negara Asal : Nazi Jerman
Perang : Perang Dunia Kedua
Produsen : J.P Sauer & Sohn
Diproduksi (Militer) : 1941-1942, total 2.456 unit
Berat : 3.4 Kg
Panjang : 1066mm
Panjang Barrel : 650mm
Catridge : 2x 12-Gauge, 1x 9.3x74mmR
Jarak Tembak Maksimum : 30-45 Meter
Action : Blitz Lock System
Feeding System : Manual Load, peluru dimasukkan satu persatu

MP-40


MP-40, atau Maschinenpistole 1940, adalah salah-satu senjata yang paling populer pada Perang Dunia Kedua. Senjata ini berjenis SMG (Sub-Machine Gun), dan memakai kaliber 9x19mm Parabellum. Dirancang oleh Heinrich Vollmer pada tahun 1938. Sebenarnya, MP-40 adalah versi "Low-Budget" dari MP-38. Yang mana MP-38 ini hanya diproduksi secara terbatas karena masalah biaya.


 Senapan MP-40.

Pasukan Wehrmacht dan senapan MP-40nya. 
Front Timur, 1944.

Pasukan Australia dan senapan MP-40 rampasannya.

MP-40 adalah jawaban dari permintaan Heereswaffenamt (Departemen Persenjataan Nazi Jerman) untuk mendesain senapan baru yang mengadopsi desain MP-36. Heereswaffenamt juga menambahkan kalau senapan baru ini harus mempunyai box Magazen dengan kapasitas besar untuk menyaingi senapan PPSh-41 milik Soviet dan Suomi KP/-31 milik Finlandia yang keduanya menggunakan Magazen berbentuk drum, sehingga bisa memuat banyak peluru.

Salah satu fitur unik dari MP-40 adalah adanya sebuah bantalan baja diujung barrel, bantalan ini berfungsi sebagai "Tripod" saat digunakan pada sisi-sisi Half-Track Sd.Kfz.251 "Hanomag". Sehingga memungkinkan pengguna untuk menembak dengan stabil.



 Salah satu fitur unik yang hanya ada di senapan MP-40.

MP-40 juga mempunyai popor yang bisa dilipat supaya lebih mudah dibawa-bawa, meskipun senapan ini bukanlah pelopor senjata dengan popor lipat, tetapi senjata dengan popor lipat seperti ini masih terdengar asing dimasa itu. Salah satu kelebihan lainnya dari senapan ini ialah recoil yang relatif kecil jika dibandingkan dengan senapan lainnya yang sejaman. 

Tetapi, MP-40 mempunyai barrel-nya yang mudah panas dan sangat sering mengakibatkan luka bakar pada tangan orang yang menggunakannya. Tidak hanya itu, dikarenakan desainnya yang sedikit menggunakan bahan-bahan Isolator. Mengakibatkan MP-40 menjadi mudah panas atau mudah dingin ketika digunakan di daerah yang bersuhu ekstrem, seperti di medan Russia atau Afrika Utara. 

Dibeberapa kesempatan, pasukan US sering menukar senapan Thompshon M1A1 mereka dengan MP-40. Alasannya karena MP-40 ini memiliki kecepatan tembakan yang relatif lambat. Membuatnya lebih mudah dikontrol, sehingga lebih akurat. Di sisi lain, MP-40 juga cukup ringan.


2 perwira Jerman yang bersiap untuk memimpin serangan guna merebut 
sebuah jalan di kota Stalingrad, Oktober 1942. 

Seorang pasukan Jerman yang memberi aba-aba berhenti untuk 
temannya yang bersenjatakan penyembur api dibelakangnya.

 Tak lupa membersihkan senapan selagi ada waktu luang.

Bujug buset, masih sempet aje bawa souvenir segini banyaknya.
Itu mau di kiloin atau gimana bang ? wakakak (.___.)

Oleh para kalangan pasukan US, senapan ini sering disebut "Schmeisser". Dan Schmeisser ini adalah perancang senapan MP-18. Yang mana MP-18 ini adalah "nenek moyang"-nya MP-40. Tetapi pada faktanya, Hugo Schmeisser tidak punya campur tangan apapun dalam pendesainan senapan MP-40. Beberapa pasukan Sekutu juga menjuluki MP-40 sebagai "Burp-Gun", karena suara tembakannya yang cukup aneh.


Spesifikasi (MP-40 original design)

Tipe : Sub-Machine Gun
Negara Asal : Nazi Jerman
Pengguna Resmi : Nazi Jerman, Italia, Finlandia, China.
Perang : Perang Dunia Kedua, Perang Vietnam, Perang Korea.
Designer : Heinrich Vollmer, pada 1938.
Produsen : Erma Werke, Steyr-Mannlicher, Haenel.
Diproduksi : 1940-1945, total 1.1 juta unit
Berat : 3.97 Kg
Panjang : 833 mm, 630 mm (popor dilipat).
Panjang Barrel : 251 mm
Sistem : Straight Blowback, Open Bolt.
Catridge : 9x19mm Parabellum, 32 butir peluru per box.
Fire Rate : 500-550 tembakan per menit.
Muzzle Velocity : 400 m / s
Jarak Tembak Efektif : 100-200 meter
Jarak Maksimum Tembakan : 200 meter

Varian :

MP-38 : Model awal yang tidak banyak diproduksi, karena masalah biaya.

MP-40 (Original Design)

MP-40/I : MP-40 yang dilengkapi dengan Dual Magazen Slot, mulai muncul pada 1942, dan jumlahnya sangat terbatas.

MP-41 : MP-40 dengan popor kayu



MP-38, bentuknya sih nggak beda-beda amat sama MP-40.


MP-40/I, sangat unik.


MP-41

INFO TAMBAHAN : menggunakan box Magazine sebagai grip menyebabkan kerusakan pada Feeding System. Yang mengakibatkan beberapa kerusakan fatal seperti peluru yang macet atau bahkan peluru bisa meledak di dalam Magazen. 


Tata cara memegang senapan MP-40 dengan benar.



Merah : Tidak aman untuk digunakan sebagai grip.
Kuning : Daerah yang mudah panas.
Hijau : Daerah yang seharusnya dijadikan grip.